In Memoriam Prof. Sajogyo: Bukan Sekedar Garis

Prof. Sayogyo dikenal sebagai Bapak Sosiologi Perdesaan Indonesia. Beliau wafat pada 17 Maret 2012. Pemikirannya tentang konsep garis kemiskinan sampai saat ini masih banyak dipakai dan bahkan dikembangkan dalam berbagai modifikasi.

Dalam rangka mengenang kiprah sang penggagas besar ini, pada 26/5 digelarlah acara In Memoriam Prof. Sajogyo yang digelar di IPB International Convention Center.  Acara kolaboratif antara institusi IPB maupun institusi di luar IPB ini selain untuk mengenang jasa-jasa Prof. Sajogyo, juga untuk mengkaji kembali relevansi pemikiran pemikiran Si Bapak Garis Kemiskinan ini. 

Wakil Rektor Bidang Riset dan Kerjasama, Prof.Dr.Ir. Anas Miftah Fauzi dalam sambutannya menyampaikan bahwa tema “Bukan Sekedar Garis” diharapkan dapat  menjadi sesuatu yang dinamis, mengkaji kembali apakah pemikiran pemikiran Prof. Sajogyo masih relevan dengan kondisi saat ini.

Hal senada disampaikan oleh Wakil Presiden Boediono, melalui sambutan yang ditayangkan dalam rekaman video, Wapres menyebut karya karya Sajogyo yang sering dijadikan rujukan.  Disebut juga bahwa beberapa pemikiran Prof. Sajogyo masih relevan, namun demikian saat ini penentuan garis kemiskinan semakin bervariasi dan kompleks.

Penentuan batas garis kemiskinan menurut Prof. Sajogyo pada waktu itu menetapkan garis kemiskinan di pedesaan setara dengan 320 kg beras dan perkotaan sebesar 280 kg beras dan apabila dikonversikan ke dalam rupiah berkisar Rp160 ribu/kapita/bulan.

Badan Pusat Statistik (BPS) pun terus mengembangkan kajian tentang garis kemiskinan. Tahun 2010, garis kemiskinan rata-rata perdesaan sebesar Rp 192.354 per kapita per bulan dan perkotaan sebesar Rp 232.988 per kapita per bulan. Sementara itu tahun 2011 sebesar Rp 233.740  (kota Rp 253.026 dan desa Rp 213.395).

Sementara itu berdasarkan hasil penelitian dari  Fakultas Ekologi Manusia pada tahun 2011 ditemukan bahwa garis kemiskinan di kabupaten Bogor sebesar Rp. 544.019 per kapita per bulan sehingga berdasarkan penelitian ini garis kemiskinan Sajogyo dinilai terlalu rendah karena hanya berdasarkan standar hidup minimum dan belum merupakan standar hidup layak. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan pertimbangan bagi penentu kebijakan tentang perlunya merumuskan kembali garis kemiskinan.

Hadir dalam acara, Utusan Khusus Presiden RI, Dr.H.S Dillon,Wakil Menteri Perdagangan, Bayu Krisnamurti, Kepala Badan Pertanahan Nasional, Dr. Joyo Winoto, Dekan Fakultas Ekologi Manusia IPB, Arif Satria dan sejumlah kolega lainnya. (dh)

Artikel Terkait

Filed in: Berita

No comments yet.

Leave a Reply